Night Diamond Slide Glow

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kemampuan Tempur Pilot China Masih di Bawah AS

China memiliki angkatan udara terbesar ketiga di dunia dan mungkin melampaui Amerika Serikat dalam dalam 15 tahun ke depan. Namun dalam perang udara dengan Angkatan Udara AS, Beijing akan membutuhkan lebih dari sekadar pesawat. Mereka juga membutuhkan pilot tempur dengan kemampuan baik untuk bisa menghadapai pilot Amerika yang dikenal dengan kemampuan tinggi karena latihan dan pengalaman tempurnya.
Saat ini, pilot tempur China sedang berjuang untuk membangun teknik pelatihan yang intensif dan efektif. Ini sebagai bentuk kesadaran bahwa mereka masih memiliki tingkat kemampuan yang jauh di bawah Amerika atau Rusia.

Menurut laporan terbaru oleh RAND Corporation, sebuah think tank yang memiliki hubungan dekat dengan Angkatan Udara AS, Angkatan Udara Pembebasan Rakyat China mulai mengubah cara melatih pilot. Perubahan ini, dari waktu ke waktu, bisa sangat berpengaruh dalam upaya mengurangi kesenjangan keterampilan antara angkatan udara China dan Amerika.

Sebagaimana dilaporkan The Week Rabu 28 September 2016, Angkatan Udara China jauh tertinggal dengan Amerika Serikat karena banyak hal, salah satunya adalah faktor sejarah. Pengalaman traumatis dari Perang Dunia II, ketika 14 juta orang China kehilangan nyawa mereka dalam invasi dan pendudukan Jepang, telah membentuk strategi China untuk membangun pasukan darat besar. 

Selama Perang Dingin, para pemimpin Beijing melihat risiko invasi lain, terutama dari Uni Soviet sehingga mereka terus menggenjot kekuatan darat mereka. Pada akhirnya matra lain lebih dilupakan.

Tetapi  China telah melakukan reformasi militer besar sejak 1980-an yang bertujuan memperluas kehadiran mereka di Laut China Selatan dan Timur, sehingga memaksa angkatan laut dan udara berhadapan dengan  Amerika Serikat. China juga mengurangi kekuatan pasukan daratnya dan memperluas angkatan udara dan angkatan laut serta memikirkan kembali tentang bagaimana berperang dengan istilah yang berbeda.

Tetapi struktur yang sangat terpusat dan top-down  tetap menghambat keterampilan pasukan tempur. Rencana realistis dan panduan pelatihan tidak diterjemahkan dengan baik dalam pertempuran.
Pelatihan diperlukan untuk membiasakan pilot dengan perubahan kondisi  dan untuk membuat keputusan di tempat. “Sebagian besar pilot, bahkan mungkin semua, melakukan manuver taktis mereka didikte komandan di menara kontrol,” tulis laporan itu.

Dicontohkan pesawat yang paling penting dalam formasi tempur adalah pesawat yang memimpin. Pada dasarnya, pesawat  diawaki oleh pilot berpengalaman yang bertanggung jawab untuk memerintah formasi.

Pilot pemimpin China sering tidak memiliki keterampilan taktis, manuver udara dan rencana penerbangan berubah tanpa instruksi dari darat.

Keadaan semakin lebih buruk karena mereka sering menunda “komando darat dan bimbingan personil selama konfrontasi,” laporan RAND mengutip koran angkatan udara China Kongjun Bao.
“Dengan demikian, ada banyak faktor yang tidak menguntungkan yang terjadi selama [pelatihan] pertempuran udara. Misalnya, komando darat seringkali tidak mampu bersaing dengan situasi udara yang kompleks dan berubah-ubah,” tambah Kongjun Bao.

“Pilot terlalu banyak mengandalkan perintah dan bimbingan dari darat, yang tidak kondusif untuk meningkatkan antusiasme dan inisiatif dari kombatan udara.”

Masalah yang sama muncul selama serangan target darat. Dalam sebuah latihan, komandan menguji pilot dengan mengubah target mereka secara “ad-hoc”, namun penerbang terbang terlalu rendah dan tidak bisa mendengar perintah.

Beijing bahkan menyeret pilot antara pangkalan udara yang berbeda untuk bercampur dalam medan pertempuran. Selama pertempuran udara tiruan, komandan telah membatasi jumlah informasi antara formasi sebelum mereka melancarkan duel simulasi.

PLAAF bahkan “sering menghapus pembatasan keamanan,” tambah laporan itu.
Tapi pilot lebih baik mungkin tidak banyak dipedulikan, pada akhirnya. Beijing mengantisipasi potensi konflik dengan Amerika Serikat di Pasifik Barat dengan mengandalkan keunggulan jumlah.

Blackjack: Tercepat, Tertinggi, Terjauh, Terbesar


Rusia akan memperbaharui produksi bomber strategis supersonik Tu-160 (Blackjack),
Tu-160 adalah pembom/pembawa rudal strategis supersonik sayap variable menyapu yang dirancang oleh Biro Desain Tupolev di era Uni Soviet pada tahun 1970-an  sampai awal 1980an.
160 8

Penerbangan perdana pembom dilakukan pada bulan Desember 1981 dan mulai beroperasi pada April 1987. Produksi kembali dimulai dan Tu-160 disampaikan kepada Angkatan Udara Rusia pada Mei 2000. Sekitar 35 pesawat dibangun dan hanya 16 berada di layanan di Rusia.
160

Pembawa rudal strategis / bomber Tupolev Tu-160 akan kembali masuk produksi. Pesawat ini akan lahir kembali sebagai sebuah mesin terbang yang mematikan dan sulit untuk dibendung oleh lawan.
160 13

Tu-160 memegang 44 rekor dunia di ketinggian penerbangan dan berbagai operasi. Rekor terbaru ketika pesawat melakukan penerbangan tanpa henti sejauh 18.000 kilometer dalam 24 jam dan 24 menit.
160 9

Tu-160 adalah pesawat supersonic terbesar, terberat dan yang paling kuat dalam penerbangan militer. Selama modernisasi, pesawat akan dilengkapi dengan sistem komunikasi dan navigasi canggih, sistem penargetan baru dan kompleks peperangan elektronik.

Sumber: Jejaktapak

Tanda-Tanda Akan Perang? India Evakuasi Penduduk Dekat Perbatasan Pakistan

India mengungsikan lebih dari 10 ribu penduduk desa di dekat perbatasan dengan Pakistan, di tengah kekhawatiran akan ketegangan militer setelah pasukan khusus India melancarkan gerakan lintas perbatasan terhadap tersangka pegaris keras.
Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi memerintahkan pasukan keamanan federal dan negara bagian meningkatkan pemantauan di sepanjang garis depan di negara bagian Jammu dan Kashmir, bagian dari perbatasan sepanjang 3.300km antara dua negara tetangga bersenjata nuklir itu.

Pengungsian tersebut dilakukan setelah India mengatakan melancarkan serangan ke seberang Garis Kendali (LoC) atau perbatasan nyata di wilayah Kashmir, yang dikuasai Pakistan, terhadap tersangka pegaris keras, yang bersiap melakukan serangan di India.

Pengumuman sangat di luar kebiasaan pada Kamis itu atas yang disebut India sebagai “serangan operasi” memunculkan kemungkinan peningkatan militer antara kedua musuh yang bisa merusak gencatan senjata Kashmir pada 2003.

India dan Pakistan terlibat dalam dua perang atas Kashmir, masing-masing menguasai sebagian wilayah namun mengklaim keseluruhannya secara penuh.

Di Pakistan, peristiwa versi India itu menghadapi sikap skeptis, dengan saluran-saluran berita televisi dan harian melaporkan bahwa serangan operasi semacam itu tidak terjadi.

Mereka melaporkan tembakan senjata dan mortir kecil, yang relatif rutin terjadi di LoC yang dipenuhi persenjataan militer.

Harian Express Tribune Pakistan yang merupakan afiliasi New York Times, memuat berita utama nerjudul “Lelucon Operasi Meletus di Muka India”.

“Ini adalah taktik pengalihan India… Jika mereka benar-benar bertindak seperti ini, tentara kami siap,” kata Sartaj Aziz, kepala kebijakan luar negeri negara tersebut kepada saluran televisi lokal Geo TV menjelang rapat kabinet yang akan dipimpin oleh Perdana Menteri Nawaz Sharif, Jumat.

Ratusan desa dikosongkan di sepanjang jalur 15 km perbatasan di kawasan dataran rendah Jammu dan dekat Garis Kendali ke utara di pegunungan Kashmir.

“Prioritas utama kami adalah memindahkan perempuan dan anak-anak ke bangunan pemerintah, rumah-rumah penampungan dan gedung-gedung pernikahan,” kata Nirmal Singh, wakil menteri besar Jammu dan Kashmir.

“Warga yang tidak bisa pindah diinstruksikan untuk tidak keluar rumah pada awal pagi atau larut malam,” katanya.

Tekanan domestik atas Modi semakin meningkat untuk melakukan pembalasan, setelah 19 tentara tewas dalam serangan pada 18 September di pangkalan militer India di Kashmir yang oleh India dituding dilakukan oleh penyusup yang menyeberang dari wilayah Pakistan.

Pemimpin senior partai nasional berkuasa yang dipimpin Modi menyatakan dirinya puas dengan respon “multi-cabang” India atas serangan terhadap pangkalan militer itu.

“Bagi Pakistan, terorisme menjadi pilihan lebih murah selama ini. Saatnya untuk membuatnya lebih mahal bagi mereka,” kata Ram Madhav, sekretaris jendral nasional Partai Bharatiya Janata, dalam kolom di harian “Indian Express”.

Pemerintah Modi berjuang untuk menahan unjuk rasa jalanan di Kashmir dimana lebih dari 80 warga sipil tewas dan ribuan lainnya cidera dalam 10 pekan terakhir, setelah seorang militan muda tewas di tangan pasukan India.

Petani Rakesh Singh yang berusia 56 tahun dan tinggal di sektor Arnia, Jammu, mengatakan keluarganya termasuk yang pertama meninggalkan rumah karena desanya berada dalam jangkauan persenjataan Pakistan. “Kami paling menderita,” katanya, “Ini bukan hal baru bagi kami.”

Darimana Mesir Dapatkan Uang Untuk Ekspor Senjata??

Pada 2015 Mesir menjadi menjadi pengimpor terbesar keempat di dunia. Ini menjadi aneh kenapa bisa Mesir bisa melakukannya.
Faktanya adalah Mesir menjadi negara yang memiliki sedikit minyak, populasi besar dan ekonomi yang rapuh salah satunya karena korupsi dan serangan teroris juga telah menghantam sektor pariwisata. Bagaimana Mesir bisa mengimpor senjata besar-besaran?

Mesir telah membeli 24 jet tempur Rafale. Mereka juga mendapatkan dua kapal kelas mistral buatan Prancis yang seharusnya dikirim ke Rusia. Uang dari mana?

Sesungguhnya negara ini membeli senjata tidak dengan uangnya sendiri. Kairo mendapat bantuan miliaran dolar dari negara-negara asing, terutama negara-negara Arab kaya minyak. Mereka membantu Mesir membangun kekuatan militernya karena permusuhan antara Arab dan Iran.

Mesir setiap tahun juga mendapat bantuan militer dari Amerika Serikat senilai US$1,3 miliar.
Bantuan ini bergantung pada bagaimana Mesir bisa mempertahankan hubungan damai dengan Israel. Tetapi sekarang hal itu tidak lagi jadi masalah karena Israel telah menjadi sekutu resmi dari negara-negara Arab dalam upaya mereka untuk mencegah invasi Iran.

Alasan lain Mesir membeli banyak senjata karena pergolakan tanpa henti di negara ini setelah Arab Spring yang menerjang negara tersebut pada 2011 hingga memunculkan pemberontakan yang berakhir pada penggulingan pemerintah pada 2013.

Pada 2014 terjadi kudeta diganti presiden terpilih yang didukung oleh konservatif dan radikal Islam. Pemerintah ini mempersiapkan perang dengan Israel.

Untuk sebagian besar dekade terakhir negara Teluk Persia telah melakukan pembelian militer tahunan lebih dari US$ 60 miliar per tahun dan sebagian besar telah pergi ke enam anggota kaya minyak anggota GCC (Gulf Cooperation Council). Arab Saudi, UEA, dan Kuwait adalah pembeli besar dan alasan utamanya karena takut pada Iran. Sekarang Mesir telah menjadi importir senjata utama juga karena alasan sama.

Sampai 2016, ketika embargo senjata internasional terhadap Iran dicabut, pengadaan militer Iran kurang dari 10 persen dari yang dihabiskan tetangga Arab.

Sekarang lebih seperti 20 persen dan ini akan menjadi buruk bagi orang-orang Arab.

Selain itu, orang-orang Arab memiliki catatan tempur jauh kurang mengesankan, terutama di abad terakhir. Negara-negara Arab yang kaya minyak mencoba untuk melengkapi pasukan mereka dengan berbagai senjata terbaik dan berharap untuk mendapat yang terbaik.

AS terus menjadi eksportir senjata terkemuka diikuti oleh Rusia, Prancis, Inggris, China, Jerman, dan Italia. Pertumbuhan tajam dalam ekspor senjata sebagian besar karena dalam sepuluh tahun terakhir anggaran pertahanan global telah meningkat hampir 50 persen menjadi lebih dari US$ 1,4 triliun atau sekitar 2,5 persen dari PDB global.

Setelah Perang Dingin berakhir pada tahun 1991, anggaran pertahanan menurun selama beberapa tahun ke bawah satu triliun dolar setahun. Tapi pada akhir tahun 1990-an meningkat lagi.

Wilayah dengan pertumbuhan terbesar telah di Timur Tengah, di mana belanja pertahanan telah meningkat 62 persen dalam dekade terakhir. Wilayah dengan pertumbuhan terendah (6 persen) adalah Eropa Barat.

Resesi 2008 memiliki dampak pada pengeluaran pertahanan global yang terhenti selama beberapa tahun tetapi kemudian pertumbuhan belanja telah mulai kembali meningkat di banyak negara.

Kelas Buyan-M: Kecil Namun Mematikan

Pada pertengahan 2016 Rusia memesan lebih banyak korvet kelas Buyan-M. Tidak jelas berapa jumlah tepat dari kapal yang dibeli berikut dan rincian fitur baru serta berapa banyak pelanggan ekspor baru ada untuk Buyan-M.
Kapal kelas Buyan awalnya dibangun sebagai kapal kecil (550 ton). Kapal pertama dari kelas ini mulai beroperasi pada tahun 2006. Hanya tiga dibangun sebelum diputuskan untuk dibangun kapal yang lebih besar dan lebih bersenjata berat yang melahirkan Buyan-M. Pada tahun 2013 kapal pertama dari lima Buyan M memasuki layanan.

Buyan-M memiliki bobot 950 ton dan panjang 74 meter (243 kaki) serta memiliki 36awak.
Kecepatan puncak adalah 45 kilometer per jam dan daya tahan adalah sepuluh hari. Persenjataan terdiri dari meriam 100mm, dua senapan mesin 14.5mm, dua meriam multibarrel 30mm AK-630 untuk pertahanan jarak dekat melawan rudal dan pesawat.

Ada delapan tabung peluncuran vertikal untuk menembakkan rudal anti-Kaliber 3K14 (kisaran 300 kilometer).

Ada juga sistem rudal jarak pendek dengan jangkauan 5-6 kilometer,  Gibkha 3M47 dengan delapan rudal. Kapal dilengkapi radar udara/permukaan dan sonar.

Buyan-M baru yang dipesan sedikit lebih besar yakni dengan berat  1047 ton tetapi senjatanya sama dengan lima Buyan sebelumnya.

Buyan bersenjata berat telah menjadi kapal patroli murah yang dapat menangani apa saja selama patroli pantai dan bahkan dapat berguna di masa perang. Ini adalah salah satu dari beberapa desain baru Rusia yang ditujukan untuk patroli pantai.  Pada teknologi yang lebih tinggi Rusia memiliki korvet 2.200 ton kelas Stereguschyy yang kapal pertama memasuki layanan pada tahun 2007 dan diikuti oleh enam kapal lain.

Dari Rencana 10, Rusia Cuma Upgrade 2 Kapal Selam Nuklir Kelas Antey

Angkatan Laut Rusia urung mengupgrade seluruh kapal selam nuklir Kelas Antey (project 949A) dan memangkas hanya menjadi dua unit saja. “Tidak, tidak semua dari mereka. Ada rencana tertentu,” kata  Direktur Umum dari Biro Desin Rubin, Igor Vilnit Biro Desain Rubin, Igor Vilnit kepada TASS Kamis 29 September 2016.

Vilnit mengatakan hanya dua kapal kelas Antey yang akan diupgrade yakni Irkutsk dan Chelyabinsk. Pekerjaan akan dilakukan di galangan kapal Zvezda di Timur Jauh.

Vilnit berjanji bahwa upgrade jauh akan meningkatkan siklus hidup kapal selam ‘.

“Itu tidak perbaikan tapi peningkatan fundamental,” tambahnya.

Laporan sebelumnya, Angkatan Laut Rusia berencana untuk meng-upgrade sepuluh kapal selam bertenaga nuklir Project 949A dan 971. Awalnya, project 945 (A) juga disebutkan dalam daftar kapal selam untuk ditingkatkan.

Rusia telah membangun sebelas kapal selam proyek 949A Antey. Saat ini delapan yang bertugas aktif. Antey memiliki bobot perpindahan 24.000 ton. Masing-masing membawa 24 peluncur untuk rudal jelajah Granit dan enam tabung torpedo.

Sumber: Jejaktapak

Amerika Bersiap Kirim 600 Pasukan Tambahan ke Irak

Amerika Serikat akan mengirim sekitar 600 tentara tambahan ke Irak untuk membantu pasukan lokal merebut kembali kota Mosul dari kelompok ISIS.
Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi menyatakan bahwa pihaknya telah meminta pelatih dan penasihat tambahan dari Amerika Serikat. Sementara itu Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut pengiriman tentara tambahan sebagai “keputusan yang menyedihkan.” “Saya sangat berhati-hati saat mengirim tentara ke medan perang. Mereka berisiko tidak akan kembali lagi ke Amerika Serikat,” kata Obama di Virginia.

Tentara-tentara itu akan melatih dan memberi masukan bagi pasukan militer Irak dan milisi peshmerga Kurdi dalam pertempuran di Mosul. Mereka juga akan “melindungi wilayah yang sudah dibebaskan di Irak,” kata Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ash Carter.

Sebagian dari tentara baru akan ditempatkan di pangkalan udara Qayara, sekitar 60 km dari Mosul, kata Carter. Pasukan pemerintah Irak membebaskan tempat tersebut dari ISIS pada Juli dan memfungsikannya sebagai pusat logistik untuk mempersiapkan serangan lanjutan ke arah utara.

Sementara yang lain akan ditempatkan di pangkalan udara Ain al Asad di bagian barat Irak. Ratusan tentara Amerika Serikat sudah sejak lama berada di sana untuk melatih angkatan bersenjata Irak.

Carter menolak mengungkap lokasi penempatan tentara. Meski demikian, dia menyatakan bahwa beberapa tentara akan membantu upaya pengumpulan informasi intelijen, terutama terkait rencana ISIS menggelar serangan di luar wilayah yang mereka kuasai.

“Kami siap membantu pasukan Irak untuk mengkonsolidasikan semua wilayah di negara tersebut,” kata Carter.

“Mosul akan menjadi kota besar terakhir yang harus dibebaskan. Namun mereka juga harus memperkuat penguasaan di semua bagian kota tersebut,” kata dia. Mosul adalah ibu kota de facto ISIS di Irak.

Sementara itu di Washington, juru bicara Pentagon Jeff Davis menyatakan akan segera mengirim tentara tambahan dalam beberapa pekan mendatang.

Secara keseluruhan, tiga tentara Amerika Serikat telah tewas di medan pertempuran sejak negara tersebut menyatakan perang melawan ISIS.

Amerika Serikat saat ini menempatkan 4.565 tentara di Irak yang bertugas melakukan serangan udara, pelatihan, dan bantuan taktik untuk militer Irak, yang pada 2014 lalu sempat dipermalukan oleh ISIS di Mosul.

Pasukan Irak, yang terdiri dari tentara pemerintah, peshmerga, dan milisi Syiah telah berhasil merebut kembali sekitar setengah dari wilayah yang dikuasai ISIS dalam dua tahun terakhir. Namun Mosul akan menjadi pertempuran terbesar.

Amerika Serikat secara bertahap terus meningkatkan jumlah pasukan mereka di Irak pada tahun ini dan menempatkan mereka lebih dekat ke jalur terdepan pertempuran. Pada Juli lalu, Obama mengirim 560 tentara tambahan sementara tiga bulan sebelumnya memberangkatkan 200 tentara.

Jumlah tentara yang ada pada saat ini masih jauh lebih sedikit dibanding periode invasi untuk menjatuhkan Saddam Hussein yang sempat mencapai angka 170.000 tentara